Tentang Abkhazia | www.aroemi.com - Refrensi

Abkhazia dijuluki sebagai negara “setengah mati” karena semua bangunan yang ada di sana hancur berantakan (ada pula yang masih berdiri tapi sudah dalam keadaan yang tidak wajar). Semua bangunan yang dulu dijadikan sebagai sarana untuk melakukan aktivitas sehari-hari menjadi tumpukan batu bata yang tidak berguna.
Bangunan-bangunan rusak yang ada di negara tersebut seperti terkena bencana alam yang membuat seisinya porak poranda. Kota-kota di negara ini memang bekas peninggalan perang. Terlihat dari rumah yang dulunya digunakan sebagai rumah dinas para prajurit, kini sudah dalam keadaan rusak, hotel yang seharusnya mewah kini penuh dengan tumpukan kardus seperti sebuah gudang dan lain sebagainya.
Oleh karena semua bangunan dan prasarana masyarakat hancur, banyak penduduk yang meninggalkan negara ini.
Lalu, apa sebenarnya Abkhazia itu? Bagaimanakah sebenarnya keadaan negara ini? Simak saja bahasannya di bawah ini!

Biografi Abkhazia, Negara yang Terbengkalai

Abkhazia secara de facto adalah negara republik yang merdeka, memiliki luas daerah sebesar 8.600 km².. Walau merdeka, kedaulatan dari negara ini masih belum diakui secara internasional, namun diklaim oleh Georgia. Kemudian pada 26 Agustus 2008 diklaim oleh Rusia yang juga mengakui kedaulatan Ossetia Selatan.
Secara geografis, negara ini berbatasan dengan Region Samegrelo-Zemo Svaneti yang ada di Negara Georgia, wilayah ini berbatasan di sebelah timur dan tenggara negara tersebut. Sementara di sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Laut Hitam.
Negara ini memiliki gua terdalam di dunia bernama Krubera (Voronja) Cave, letaknya ada di sebelah barat Pegunungan Kaukakus. Menurut hasil survei terakhir pada September 2006, tingkat vertikal dari gua ini adalah 2.158 meter.
Negara ini memiliki banyak sungai kecil, ada Sungai Ghalidzga, Kodori , Bzyb , dan Gumista. Sungai-sungai itu digunakan untuk irigasi. Selain sungai kecil ada juga sungai besar bernama Sungai Psou dan Sungai Inguri. Psou adalah sungai yang memisahkan negara ini dengan Rusia, sedangkan Inguri menjadi batas antara negara ini dengan Georgia.
Negara ini memiliki iklim yang sangat ringan karena dekat dengan Laut Hitam dan merupakan “perisai” dari Pegunungan Kaukasus. Sedangkan untuk daerah pesisirnya memiliki iklim subtropis dengan suhu rata-rata 15 derajat celcius. Untuk di daerah ketinggian memiliki iklim yang bervariasi, dari daerah maritim hingga ke gunung, iklimnya dingin dan summerless.
Ada yang unik dari iklim negara ini yaitu memiliki iklim mikro atau transisi dari subtropis ke gunung yang terjadi di sebagian besar pantai. Hal ini menyebabkan iklim lebih rendah dari kelembapan. Pegunungan di Abkhazia sebagian besar bersalju.
Oleh karena negara ini diklaim sebagai salah satu wilayah yang ada di Gerogia, dalam pembagian resmi oleh pemerintah negara tersebut Negara Abkhazia adalah republik otonom artinya  pemerintah yang ada diasingkan di Tbilisi. Mulai dari tanggal 28 Agustus 2008 parlemen Gerogia setuju dengan resolusi yang menyebutkan bahwa negara ini adalah wilayah kedudukan Rusia.
Sampai saat ini, negara yang terbengkalai ini berstatus sebagai isu sentral konflik Georgia-Abkhazia. Pada tahun 1980-an, Uni Soviet mengalami kehancuran yang menyebabkan timbulnya sebuah ketegangan etnis antara negara ini dan Georgia dalam hal kemerdekaan Georgia.
Perselisihan itu akhirnya berujung dengan perang yang terjadi di negara dekat Laut Hitam ini. Perang terjadi dari 1992-1993. Saat itu militer Gerogia berhasil dikalahkan sehingga terjadilah pengusiran massal juga pembersihan etnis Georgia yang ada di negara ini.

Etimologi Negara dan Etnis

Menurut sensus terakhir pada 2011, negara ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 240.705 jiwa. Namun saat ini, jumlah pastinya belum jelas. Dalam sensus-sensus yang dilakukan sebelumnya jumlah penduduk dinyatakan berbeda-beda. Pada 2003 perkiraan jumlah penduduk adalah sebanyak 215.972 jiwa, namun penduduk itu diperebutkan oleh otoritas Georgia.
Menurut Departemen Statistik Georgia, jumlah penduduk negara ini ada sebanyak 179.000 pada 2003 dan pada 2005 ada sebanyak 178.000 jiwa. Sementara itu menurut Encyclopædia Britannica diperkirakan bahwa jumlah penduduk negara ini adalah sebanyak 180.000 jiwa pada tahun 2007. Dan International Crisis Group memperkirakan jumlah penduduk adalah antara jumlah 157.000 dan 190.000 pada 2006 atau antara 180.000 dan 220.000 seperti yang telah diperkirakan oleh UNDP pada 1998.
Ketidakpastian itu lah yang membuat kebimbangan mengenai berapa sebenarnya jumlah penduduk yang masih tersisa di negara ini.
Untuk etnis, populasinya masih sangat beragam bahkan ketika perang 1992-1993 sedang terjadi. Menurut data, saat ini etnis-etnis yang ada di negara ini terdiri atas Abkhazia, Georgia (kebanyakan Mingrelians ), Rusia juga Hamshemin Armenia. Ditambah juga dengan etnis dari negara lain yang di antaranya adalah Belarusia, Ukraina , Yunani , Tatar , Ossetia, Turki, dan Roma .
Sebelum perang melawan Georgia berlangsung, jumlah etnis Georgia ada sebanyak 45,7% dari jumlah populasi yang ada. Sementara pada 2003 etnis Gerogia beserta etnis Rusia dan Armenia melarikan diri dari negara ini.
Saat Uni Soviet masih berkuasa terhadap penduduk dari Georgia, Rusia dan Armenia berkembang pesat. Pertambahan jumlah penduduk itu terjadi akibat dari adanya migrasi besar-besaran yang saat itu sedang diberlakukan. Saat pemerintahan Joseph Stalin dan Lavrenty Beria, migrasi paling besar terjadi.

Pertumbuhan Agama

Sebagian besar penduduk negara ini menganut agama kristen, ortodoks timur dan Armenia Apostolik serta Muslim Sunni bahkan ada yang tidak memiliki agama sama sekali. Walau banyak yang menyebutkan bahwa agama kristen dan muslim adalah agama yang paling banyak di sana, nyatanya jumlah warga yang mengakui menganut agama tersebut sangat jarang datang ke acara-acara keagamaan.
Sementara itu ada agama tradisional Abkhazia yang dari waktu ke waktu mengalami banyak perubahan yang dimulai dari beberapa dekade terakhir. Agama lain yang dianut namun dalam jumlah yang sedikit adalah Yudaisme, Saksi-Saksi Yehuwa dan gerakan-gerakan keagamaan baru. Sayangnya, Organisasi Saksi Yehuwa sudah resmi dilarang dari 1995 lalu. Namun, nyatanya sampai saat ini pelarangan itu masih belum ditegakkan oleh para penduduk.
Jumlah penganut agama-agama yang sudah disebutkan di atas adalah hasil dari survei yang dilakukan pada 2003 lalu. Dari total populasi yang ada di Abkhazia, sebanyak 60 persen responden mengakui bahwa mereka menganut agama kristen, 16 persen mengakui menganut agama muslim, 8 persennya mengakui mereka atheis namun sebagian besar menjadikan pedoman hidup mereka dari ajaran agama tradisional atau sebagai Pagan. Sementara sebanyak 2 persen menganut agam lain yang tidak disebutkan, dan sisanya sebanyak 6 persen masih ragu-ragu.

Ibukota Abkhazia, Sukhum

Sukhum yang merupakan ibukota dari Abkhazia adalah negara pecahan dari Georgia yang tidak mendapat pengakuan secara internasional. Menurut survey 23 tahun yang lalu pada 1989 jumlah penduduk Sukhum berjumlah 121.406 jiwa.
Ibukota negara ini, ada di tepi Laut Hitam atau di bagian barat Georgia. Kota ini terkenal dengan resort, spa, iklim semi tropis, sanatorium dan pantainya. Sukhum memiliki bandara utama bernama Bandara Dranda Sukhum.
Di sana ada satu tempat wisata sejarah, yaitu berupa taman botani bersejarah yang mulai dibangun pada 1840. Pada 1945 sampai 1954, salah satu laboratorium fisikanya terlibat dalam sebuah program pengembangan senjata nuklir untuk Uni Soviet. Sampai dengan 1992 ada sembilan bahasa yang dituturkan di negara ini sehingga dijuluki sebagai kota multi-kultur.
Menurut sejarah, dulunya Sukhlum adalah koloni Yunani bernama Dioscurias yang kemudian disebut dengan Sebastopolis, tepatnya pada tahun 6 SM. Seiring dengan berjalannya waktu, koloni itu berganti nama lagi menjadi Sukhum-Kale pada masa pendudukan Turki. Kemudian wilayah itu dikuasai oleh Rusia pada 1810.
Perang yang terjadi antara Georgia-Abkhazia pada 1992-1993 sangat dirasakan oleh penduduk Sukhum. Hampir semua bangunan yang penting, misalnya Museum Arsip, semua hancur dan rata dengan tanah.
Sampai saat ini walau kota ini sudah berangsur pulih, kondisi wilayah sangat berbeda dengan saat sebelum terjadinya perang.
Itu lah bahasan mengenai negara yang hampir mati akibat perang pada 1992-1993. Sungguh memprihatinkan melihat apa yang terjadi di negara ini, semoga saja suatu saat nanti Abkhazia akan menjadi negara yang utuh dan lebih baik lagi.
..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Previous
Next Post »
Thanks for your comment